TKP Gadis Diperkosa Sering Dijadikan Tempat Mesum

Kompas.com - 14/03/2013, 08:57 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Lahan yang diduga menjadi tempat belasan pria melakukan tindakan pemerkosaan pada gadis N (15) di Jakarta Timur, memang dikenal rawan. Lokasi nan sepi yang terletak di wilayah Cijantung, dekat Jalan Raya Bogor, Pasar Rebo, Jakarta Timur itu kerap dijadikan tempat mesum oleh muda-mudi.

Harry Putra (24), salah seorang pemuda yang tinggal tak jauh dari lokasi itu, mengatakan, lahan yang kerap menjadi tongkrongan anak muda tersebut, biasa disebut "lapangan turna", yang berarti "turun-naik". Sebutan itu muncul lantaran struktur tanah akses menuju ke sana berupa jalan setapak tanjakan dan turunan.

"Memang rawan di situ. Kan lokasinya gelap dan rada jauh dari permukiman warga. Banyak anak-anak tanggung sering ke sana," ujarnya kepada Kompas.com, Kamis (14/3/2013) pagi.

Terlebih menjelang larut malam atau akhir pekan, muda-mudi —baik berpasang-pasangan ataupun berkelompok— semakin banyak yang nongkrong di sana. Tak tahu apa yang mereka lakukan. Namun, pada pagi hari tak jarang warga setempat kerap menemukan alat kontrasepsi bekas, botol minuman keras, dan puntung rokok.

Dita Handayani (25), seorang warga lainnya, mengatakan, warga melalui perangkat RT dan RW setempat diketahui sempat melarang anak muda tersebut untuk nongkrong di lahan kosong itu. Namun, teguran tersebut hanya bertahan beberapa waktu saja. Selebihnya, muda-mudi itu terus saja berdatangan ke lapangan turna.

"Sampai capek warga sini bilangin. Balik lagi balik lagi, enggak tahu itu orang mana yang datang. Mau dibikin lampu, juga enggak jadi-jadi," ujarnya.

Pantauan Kompas.com Rabu siang, lahan dengan luas sekitar satu hektare tersebut tampak sepi. Dari jalan setapak, lapangan turna itu dikelilingi oleh semak-semak setinggi sekitar satu meter. Jika masuk lebih jauh, terdapat pohon mahoni yang menaunginya sehingga menambah kesan rindang.

Di beberapa bagian, tampak hanya tanah dan tak ditumbuhi rumput. Di situlah terdapat bekas kayu dibakar berikut bungkus rokok, pecahan botol, serta sampah plastik lain. Lokasi tersebut diduga menjadi tempat kejadian perkara seorang gadis 15 tahun berinisial N jadi korban kekerasan seksual oleh belasan pria.

Salah satu pria tersebut diketahui dikenal N dari situs jejaring sosial Facebook beberapa waktu silam. Diduga pria itu menjebak N di lapangan itu dan menjadikannya pelampiasan nafsu seks. Hingga Kamis pagi, N masih dirawat intensif di Rumah Sakit Polri Bhayangkara Raden Said Sukamto, Kramat Jati, Jakarta Timur, akibat trauma mendalam yang dialaminya.

Spesialis Forensik Dokter Arif Wahyono mengatakan, hasil diagnosa dokter pertama kali, menunjukkan bahwa korban telah mendapatkan tindakan kekerasan seksual. "Secara umum, fisiknya baik. Hanya ditemukan bekas kekerasan di alat kelaminnya dan ada luka di bagian tubuh lainnya," ujar Arif Wahyono, saat ditemui wartawan di rumah sakit, Rabu (13/3/2013) siang.

N ditangani tim yang terdiri dari lima orang tenaga medis spesialis, yakni SPOG, dokter spesialis anak, psikiater, dan psikolog. Kondisi fisik korban diketahui masih stabil. Tim tenaga medis tengah fokus dalam menangani penurunan kondisi mental akibat traumanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau